Lampu SEHAT. Lebih Hemat. Lebih Terang. Lebih Sehat.

Pentingnya Pendidikan Seks Pada Anak Autis

Diposting pada 18 April 2012

Pendidikan Seks untuk Anak Autis


LampuSehatoonizer.com - Anak-anak dan remaja rentan terhadap informasi yang salah mengenai seks. Jika tidak mendapatkan pendidikan seks yang sepatutnya, mereka akan termakan mitos-mitos tentang seks yang tidak benar. Informasi tentang seks sebaiknya didapatkan langsung dari orang tua yang memiliki perhatian khusus terhadap anak-anak mereka.

Hasil survey Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen remaja di Indonesia telah melakukan hubungan seks pranikah. Angka yang memprihatinkan di negeri yang cukup menjunjung tinggi nilai moral sehubungan seks. Mengapa mereka bisa melakukan hubungan seks pranikah? Penyebabnya karena kurangnya pendidikan seks kepada anak dan remaja. Kapan pendidikan seks bisa mulai dilakukan?

Memasuki usia remaja, hasrat dorongan seksual pada anak biasanya akan mulai muncul, begitu pula pada anak autis. Oleh karena itu, orangtua sebagai figur panutan harus mampu membimbing dan memberikan pemahaman yang tepat kepada anak terutama dalam hal seksual.

Koordinator Klinik Terpadu, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Dr. Adriana S. Ginanjar, M.S mengatakan, sebelum memasuki usia remaja, orang tua dari anak autis seharusnya sudah membekali anak mereka mengenai pendidikan seksual.

“Bisa mulai dari menjaga kebersihan tubuh sendiri, hal-hal yang privasi, dan kemandirian,” katanya, saat ditemui dalam acara Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi The London School of Public Relations, dengan tema Autism Awareness Festival, Sabtu, (14/4/2012).

Apabila anak autis sudah mulai mengenal konsep cinta, maka orangtua perlu mengarahkan anak mereka mana yang boleh dan tidak.

Adriana mengatakan, seorang ayah sebaiknya mengajarkan edukasi seks kepada anak laki-laki, sedangkan ibu mengajarkan kepada anak perempuan. Tetapi permasalahannya, orangtua selama ini seringkali merasa kesulitan jika tiba-tiba harus bicara tentang seks kepada mereka, apalagi pada anak dengan berkebutuhan khusus, seperti autis.

Menurut Adriana, ada banyak cara yang bisa dilakukan supaya orang tua bisa menyampaikan informasi yang benar tentang seks kepada anak mereka. Misalnya, dengan memasukkan anak ke sekolah yang memberikan pendidikan seks atau apabila belum cukup bisa memanggil guru agama.

Tapi untuk anak-anak yang bisa membaca, orangtua bisa membelikan anak mereka buku tentang pendidikan seksual. “Pilih mana buku yang cocok bahasanya untuk anak,” paparnya.

Pada masa puber, anak autis seringkali tidak memiliki perasaan malu saat berjalan telanjang, memperlihatkan alat kelamin, membuka celana, dan masturbasi di tempat umum.

Untuk melepaskan hasrat seksualnya tersebut, Adriana menyampaikan, masturbasi memang dibutuhkan oleh anak autis. Karena menurutnya, kalau hal ini tidak dilakukan, anak akan menjadi tertekan.

Namun orangtua harus mengajarkan kepada anak mereka agar tidak melakukan hal tersebut di tempat-tempat yang terbuka dan umum. “Itu seperti kebutuhan dasar. Sama seperti makan dan minum. Cuma hal ini menjadi sesuatu yang memalukan karena dianggap tabu,” jelasnya.

Untuk menangani dorongan seksual pada anak autis, orang tua sebaiknya harus bijaksana. Bagaimanapun, dorongan seksual merupakan kebutuhan biologis yang harus dapat tersalurkan namun harus tetap sesuai dengan norma supaya tidak merugikan orang lain.

Adriana menuturkan, beberapa kegitan seperti olahraga biasanya dapat mengalihkan pikiran anak untuk tidak melakukan masturbasi. “Tetapi kalau keinginan itu tetap terus ada, kita harus memperbolehkannya tapi harus ditempat yang privat,” tutupnya.

 

 

Sumber : kompas.health.com